Selasa, 15 Januari 2013

KAMAR SEBELAH


“Rafy, tolong simpan kardus-kardus ini ke kamar sebelahmu.” perintah ibu. “Siapa tahu nanti berguna,”

Aku langsung membawa setumpuk lipatan kardus itu ke kamar di sebelahku. Saat itu kami sekeluarga baru pindah, sehingga banyak barang yang harus kami tata. Untung saja rumah baru kami sangat besar dan berlantai dua, jadi kami tidak usah bersempit-sempitan lagi seperti di rumah lama.

Saat aku masuk ke ruangan di sebelah kamarku, jendela besar langsung terpampang di sana tanpa tirai. Aku bisa melihat pemandangan hutan dari sana dengan sangat jelas. Pucuk-pucuk pepohonan melambai-lambai seolah-olah mengajakku untuk pergi ke sana. Tapi memang itu keinginanku. Aku paling suka berkemah atau menjelajahi hutan yang belum kukenal. Dan untungnya, ayah mengizinkanku untuk berkemah di hutan itu.

Siang terus berlanjut. Aku bersama kakak perempuanku—Dona—tidak henti-hentinya membantu ayah dan ibu, hingga waktu senja datang menjemput kami. Setelah menutup semua tirai dan membersihkan diri, kami langsung makan malam bersama di ruang makan.
* * *

Jam menunjukkan pukul 10 malam ketika aku bergegas naik ke tempat tidur. Alunan musik rock yang datang dari kamar kakakku sangat menyiksaku saat itu. Meski kamarnya ada di bawah, namun musiknya tetap terdengar sampai ke telingaku.

Aku jadi benar-benar tidak bisa tidur.
Hingga akhirnya terdengar sebuah suara yang datang dari kamar di sebelahku. Sebuah suara yang lumayan keras, dan membuat lantai kamarku bergetar. Aku langsung bangkit dan memasang telinga baik-baik. Itu suara jendela dibanting. Tidak salah lagi. Tapi siapa yang membantingnya?

Dan pada saat itu juga, alunan musik rock dari kamar kakakku berhenti seketika. Suasana menjadi hening. Tetapi tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki berlari menaiki tangga dan melewat di depan kamarku. Setelah itu suara langkah kakinya tak terdengar lagi. Kupikir itu adalah Kak Dona yang berlari. Mungkin ia juga mendengar jendela dibanting keras, lalu segera berlari menghampiri kamar sebelahku itu. Akhirnya aku pun keluar dari kamarku.
“Kakak? Kakak ada di sana?” tanyaku sambil mengetuk pintu kamar sebelahku.

Tidak ada jawaban. Karena penasaran, aku buka pintunya. Ternyata di dalamnya sama sekali tidak ada siapa-siapa, dan jendela besarnya masih tertutup dan terkunci. Aneh sekali, pikirku.

Tiba-tiba ada suara seorang anak perempuan meminta tolong!
“Tolong … Tolong aku … ”
Aku benar-benar terkejut. “Siapa itu?!”
“Tolong aku … “

Aku berpaling ke sana kemari, mencari asal muasal suara itu. Namun aku tidak menemukannya. Dan meski aku sudah berbaring di kamarku, suara menyeramkan itu terus-menerus menghantuiku sepanjang malam. Aku benar-benar tidak bisa tidur.
* * *

“Benarkah?” ujar Dona. “Padahal ‘kan aku membiarkan kaset rock-ku menyala sampai tengah malam.”
“Tidak mungkin. Aku benar-benar mendengar kalau musik rock di kamar kakak mati setelah ada suara jendela dibanting itu. Lalu terdengar suara langkah kaki berlari menaiki tangga,” jelasku. Saat itu kami sedang makan pagi. Aku ceritakan semuanya kepada kakak, ayah dan ibu.

Ibu hanya tersenyum mendengar perkataanku. “Mungkin kamu hanya bermimpi,”
“Kau tidak biasa dengan rumah ini, sehingga … yah—halusinasimu mulai bermain dan mengganggumu.” tambah ayah. “Kalau sudah terbiasa pasti tidak akan begitu,”

Aku mengeluh di dalam hati. Mengapa mereka tidak pernah percaya padaku? Sedangkan pada Kak Dona, semua yang diceritakannya selalu ditanggapi dan dipercaya. Aku dan dia ‘kan hanya beda 5 tahun. Aku kelas 4 SD, sedangkan dia kelas 1 SMA. Tapi kata teman-temanku, orang yang lebih tua memang lebih dipercaya.
“Oh ya, nanti malam, pamanmu akan datang menginap di sini.” kata ayah membuyarkan lamunanku. “Ia akan datang bersama Arine. Biarkan mereka memilih kamar yang mereka mau untuk ditempati,”

Arine. Ya. Siapa yang tidak mengenal dia. Anak itu sebaya denganku, tetapi punya kelebihan. Dia pintar, manja dan cantik. Orang tuanya yang kaya raya membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Semua yang diinginkannya selalu dipenuhi. Di depan orang tuaku atau orang lain, ia adalah gadis manis yang penuh sopan santun. Tapi di depanku, ia adalah anak yang sombong dan licik.“Kenapa harus memilih? Biar saja mereka tidur di kamar sebelahku.” tukasku kesal.

Ayah menatapku. “Rafy, dengarkan ayah. Pamanmu yang menemukan rumah besar ini. Pamanmu yang meminta pemilik rumah ini agar harga jualnya dipotong sehingga tidak terlalu mahal. Dan pamanmu juga yang membayar setengahnya.” Ayah diam beberapa saat, memperhatikanku lekat-lekat. “Mereka adalah tamu istimewa kita. Jadi jaga sikapmu ketika mereka datang. Kalau kau berbuat yang tidak-tidak lagi, ayah yang menentukan hukumannya. Mengerti?”

Dan malamnya mereka benar-benar datang. Ayah dan ibu mempersiapkan semua ini dengan matang. Makanan mewah dihidangkan di meja makan yang panjang dan besar itu. Semua ruangan dipel, dan Kak Dona mengenakan baju terbaiknya.
Sialnya, Arine memilih kamarku untuk ditempati.
* * *

Aku terpaksa tidur di kamar menyeramkan itu hanya dengan satu buah matras, selimut tipis dan sebuah bantal yang keras. Menyebalkan. Arine hanya tersenyum puas sambil bertolak pinggang saat ia memilih kamarku dan melihatku merengut karenanya.

Malam tiba. Seperti biasa, aku tidak bisa tidur. Lampu tidak kumatikan, dan kubiarkan selimut membungkusku hingga ke hidungku. Aku tetap terjaga. Rasanya waktu berputar cepat sekali. Pukul 9, pukul 10, pukul 11. Dan aku tetap tak bisa tidur. Telinga kupasang baik-baik. Tetapi saat itu sama sekali tak ada suara apa-apa. Satu jam pun berlalu. Tidak, tidak satu jam. Tetapi pukul 11 lewat 59 menit 55 detik. Jam dinding terus kuperhatikan dan kuhitung detiknya. 56, 57, 58, 59 … Dan saat itu, lonceng jam di ruang tamu berdentang keras. Itu sedikit membuatku terkejut. Aku benar-benar tak percaya. Ini-lah pertama kalinya dalam seumur hidup aku tidak tidur hingga pukul 12 malam.

Tiba-tiba sesuatu terjadi.

Lampu kamarku dalam sekejap mati, dan aku sangat ketakutan. Aku berlari menghampiri pintu dan berusaha membukanya. Tetapi tidak bisa. Terkunci! Padahal pintu itu tak ada kuncinya sama sekali. Aku terus memaksa membukanya dan menggedor-gedor pintunya.
“Tolong!” teriakku panik. “Tolong aku! TOLONG!”
Di sekelilingku benar-benar gelap, hitam, dan hanya sedikit cahaya yang masuk melewati jendela besar di sana. Aku tak henti-hentinya menggedor pintu. Pikiran-pikiran tentang makhluk halus atau hantu mengiang di pikiranku.
Aku diam sebentar dan mengatur nafas. Anehnya, Paman dan Arine yang tidur di sebelah ruangan tidak mendengarku sama sekali. Ayah, ibu atau Kak Dona pun tidak datang menghampiriku, padahal teriakanku sangat keras.

Saat diam beberapa detik, tahu-tahu lampu sudah menyala kembali. Aku tersentak kaget. Tapi anehnya, lampu di ruangan itu sangat pudar dan berwarna kuning. Padahal sebelumnya lampu berwarna putih terang. Aku masih menghadap ke pintu, berjalan mundur perlahan-lahan ke belakang. Debu dan sarang laba-laba menghiasi setiap sudut tembok, membungkus lemari dan peralatan yang ada di sana. Lantai yang kupijak sangat kotor dan berpasir. Aneh sekali. Aku merasa seperti berada di masa lampau.

Masih dengan keheranan, aku berbalik menghadap jendela besar. Tiba-tiba ada sesuatu yang hampir membuat jantungku lepas. Ada sesuatu yang membuat urat nadiku hampir putus, membuat kakiku bergetar hebat karenanya. Mulutku menganga lebar, mataku terbelalak. Aku seperti disambar petir.

Ya. Di sana, di jendela itu, sebuah sosok anak perempuan seumuranku tergantung melayang dengan tali tambang melilit di lehernya. Dia menghadap ke arahku. Gadis itu memakai baju daster hingga ke lututnya. Seluruh tubuhnya berwarna putih pucat, rambut hitamnya yang panjang sebahu tergerai menutupi sebagian wajahnya. Tetapi dapat kulihat dengan jelas; matanya melotot lebar seolah-olah akan keluar.

Mulutnya terbuka sedikit, dan darah mengalir lembut melalui hidung dan mulutnya. Kakinya yang tel***ang bergelantungan dan bergerak sedikit ketika ada angin kencang menerpa.

Aku menjerit kencang sekali. Ini bukan rumahku. Ini bukan ruangan itu.

Kubawa kaki ini berlari menghampiri pintu dan memaksa tanganku membuka pintu itu. Tetapi pintu tetap terkunci. Aku panik. Sangat panik.
“AYAH! IBU! TOLONG AKU!!”
* * *

[29 Februari 1992]
“Tolong aku … “

Di sudut ruangan itu, Lyssa merapatkan kedua lututnya, menunduk, dan menangis lagi. Sudah lebih dari seminggu ia disekap di dalam kamar kosong tanpa ada yang menemani seorang pun. Hanya dua buah obor yang terpajang di dinding, menyinari sedikit ruangan itu. Cahaya bulan merembes masuk melalui jendela besar di belakangnya.

Sudah banyak korban berjatuhan. Dan yang mengalami pasti selalu anak perempuan. Dan kini, Lyssa pun ikut terpilih. Semula ia tak terlalu mengerti hal itu, namun ketika ada sekelompok pria tak dikenal menawarkan permen dan boneka, Lyssa terbujuk dan menuruti perintah pria-pria itu. Lyssa dibawa ke suatu tempat yang jauh sekali dari rumahnya. Ia disuruh masuk ke dalam sel yang penuh dengan jeruji—mirip seperti penjara. Di sana, banyak sekali anak-anak perempuan seumurannya yang sedang duduk membungkuk. Wajah mereka sangat memelas, seolah tidak ada harapan yang akan menyelamatkan mereka dari kengerian itu. Mereka semua sangat kurus dan cekung.

Dan inilah awal malapetaka yang dialami Lyssa. Gadis cantik itu harus menerima siksaan yang amat sangat menyakitkan. Ia tidak bisa bertemu dengan kedua orang tuanya—padahal di kejauhan sana, orang tua Lyssa sangat panik mengetahui anaknya hilang. Sirine mobil polisi terdengar di mana-mana. Sementara surat kabar tak henti-hentinya menampangkan berita itu; “Penculikan Anak Terus Berlanjut”.

Satu per satu anak di dalam ruangan itu dipanggil dan dijual ke luar negeri. Lyssa tidak tahu tentang itu. Yang ia tahu, pasti anak yang dipanggil akan dibawa pergi ke tempat yang sangat jauh, dan di sana akan dijadikan budak dan disiksa terus-menerus.

Dan sekarang—tepatnya tanggal 29 Februari, tinggal Lyssa yang terakhir berada di sel itu. Keheningan malam sangat mencekam dan menyiksa dirinya. Baju daster se-lutut sudah dipakainya selama seminggu. Ia juga menggigil kedinginan. Angin kencang terus menerpa hingga tulang-tulang kurusnya.

Sebelumnya, Lyssa dan beberapa anak lainnya sudah berusaha untuk kabur. Mereka dengan susah payah membuka jendela besar yang digembok dan dirantai. Tetapi suatu kali mereka berhasil. Mereka bisa membuka jendela itu, namun ketika melihat ke bawah, hanya sungai kotor dan hutan yang tampak. Belum lagi ketinggiannya mencapai beberapa meter, dan anak-anak itu terlalu takut untuk meloncat ke bawah. Pada saat itu juga, angin di luar berhembus kencang hingga membanting jendela besar itu. Suaranya sangat keras seperti gempa. Salah satu pria yang ada di bawah langsung berlari menaiki tangga dan memarahi anak-anak itu.

Tiba-tiba Lyssa berpikir, apa yang harus ia lakukan agar ia tidak seperti anak-anak lainnya. Bagaimana cara agar ia dapat menghindar dari semua itu. Ia sangat marah. Marah pada dirinya. Seharusnya, anak berumur 10 tahun sudah bisa menjaga diri sendiri. Ia menyesal kenapa tidak memikirkan baik-baik nasihat orang tuanya. Dan juga anak-anak lainnya. Mereka semua sangat bodoh dan tolol.

Malam itu, Lyssa mengamuk-ngamuk sendiri. Ia menangis, menendang-nendang tembok, meloncat-loncat, mendumel sendiri, dan berteriak-teriak seperti orang gila. Tiba-tiba ia melihat sejumput tali tambang di sudut ruangan. Tangisnya mendadak berhenti. Ia berpikir, ia pasti bisa melakukan sesuatu dengan tali itu. Pasti. Lyssa tersenyum, dan tertawa terbahak-bahak. Ia terus tertawa sambil berjalan mengambil tali itu. Kemudian ia perhatikan paku yang sudah berkarat yang terpajang di atas jendela besar. Tawa Lyssa meledak lagi.

Gadis malang itu mengambil kursi kayu dan menyimpannya di dekat jendela. Setelah menaikinya, ia mengikat tali tambang pada paku dengan sangat erat. Lalu di ujung lainnya, ia membuat simpul tali melingkar seperti sebuah lingkaran. Kemudian ia berbalik dan memasukkan tali itu ke lehernya. Ia pun membiarkan dirinya bergelantungan di jendela itu, membiarkan nyawanya lepas dari tubuh mungilnya.
* * *

Kejadian itu lalu terus terjadi setiap 4 tahun sekali di bulan Februari. Dan bangunan tempat penjualan anak itu pun sudah dibersihkan dan dijadikan sebuah rumah megah. Tetapi jendela besar tetap terpasang rapi di dinding, tanpa meninggalkan sedikitpun sisa-sisa luka seorang anak.

Dan setiap ada anak perempuan berumur 10 tahun berada di bangunan itu saat tanggal 29 Februari, ia akan ikut merasakan penderitaan seperti yang pernah dialami Lyssa.
* * *

[29 Februari 2000]
Aku tersentak kaget. Nafasku tersengal-sengal, peluh berkucuran di keningku. Kulihat sekelilingku. Aku masih duduk di atas matras, dengan selimut tipis dan bantal keras. Lampu di ruangan itu masih berwarna putih terang, dan sama sekali tak ada debu atau sarang laba-laba di sana. Lantainya juga bersih tidak berpasir. Aku bernapas lega. Apakah ini semua hanya mimpi? Yang kuingat, terakhir kali aku memukul-mukul pintu dan memanggil ayah dan ibuku.

Kugali lagi isi pikiranku. Di dalam mimpiku, aku melihat penderitaan Lyssa. Aku melihat bagaimana sosok gadis itu.

Dan aku mengerti.
Suara anak yang meminta tolong kemarin malam pasti adalah suara Lyssa saat ia disekap di sel. Suara jendela dibanting keras itu tak lain adalah ketika Lyssa mencoba kabur dan membuka jendela, tiba-tiba angin kencang datang membantingnya. Lalu suara tapak kaki orang itu pasti adalah suara langkah pria yang berlari menghampiri sel. Dan sel itu sedang kutempati sekarang. Kejadian 8 tahun lalu terus berulang dan menimpa anak perempuan. Syukurlah. Aku bukan anak perempuan.

Tapi … Tunggu.
Setiap ada anak perempuan berumur 10 tahun berada di bangunan itu saat tanggal 29 Februari, ia akan ikut merasakan penderitaan seperti yang pernah dialami Lyssa.

Anak perempuan.
10 tahun.
Jangan-jangan …

Dan saat aku berpaling ke belakang, di jendela itu sudah tergantung sesosok anak perempuan yang sangat kukenali.
“ARINE!!!”


DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2012/05/cerpen-horor-kamar-sebelah.html#ixzz2I253ihbT

Sabtu, 12 Januari 2013

My Meme XD







Sbenernya ada 1 lagi tapi gatau kemana. Udah dicari tetep ga ada juga :/ Udahlah yang penting udah di-post :) Yang pengen bikin, klik disini: http://www.mememaker.net/

Kamis, 10 Januari 2013

TUMBAL TELAPAK TANGAN


Bangunan berlantai tiga dengan warna biru yang terlihat telah memudar. Ada sedikit cat yang sudah mengelupas sehingga menampakkan warna asli bangunan itu, putih. Bangunan yang sebenarnya adalah tempat dijualnya obat herbal dan berbagai jenis jamu itu memang agak jauh dari bangunan-bangunan lain. Seorang gadis remaja memandangi bangunan tersebut dengan raut wajah ragu. “Toko Obat dan Jamu Laveindisc”. Tulisan nama toko itu cukup besar dan jelas sehingga dari jarak yang cukup jauh dapat dibaca oleh remaja berambut lurus panjang yang masih berdiri tanpa bergeming.

Tiba-tiba Alikha melangkahkan kakinya menuju toko itu dan masuk dengan perlahan seperti ada kekuatan yang menariknya untuk memasuki toko itu dengan segera.. Matanya menyapu seisi toko di lantai satu, mencari karyawan di sana untuk bertanya. Herannya tidak ada satu orang pun yang terlihat. Hanya ada sofa tua, deretan lemari yang berisi obat-obat dan jamu, meja kecil yang di atasnya ada sebuah buku kecil lengkap dengan pena hitam dan ada televisi kecil di atas salah satu lemari obat yag tepat menghadap jendela. Suasana sangat sepi hanya detak jarum jam yang terdengar. Gadis remaja bernama Alikha itu merasakan suatu keganjalan.
“Assalamu’alaikum… Permisi, apakah ada orang? Saya Alikha, calon pegawai yang akan bekerja di toko ini,” seru Alikha cukup keras berharap ada seseorang yang mendengar.
Belum ada juga tanda-tanda keberadaan seseorang di sini. Alikha memutuskan untuk duduk sebentar sambil menunggu. Sofa berwarna coklat gelap yang sekarang diduduki Alikha sudah dimakan usia. Kulitnya banyak yang sudah terkelupas dan sofa itu tidak cukup empuk lagi bagi Alikha. Alikha masih tetap menunggu. Ia berpikir mungkin pemilik toko ini sedang tidur siang di lantai dua atau lantai tiga karena di jam tangannya memang menunjukkan tepat pukul dua siang.
“Hoaaem…, jadi mengantuk juga,” keluh Alikha sambil melemaskan tubuhnya mencari posisi yang enak untuk duduk di sofa tua ini. “Kok, seperti tidak ada pembeli ya? Sepi sekali,” katanya dalam hati.

Alikha berdiri untuk melihat keadaan di luar toko. Dari kejauhan dilihatnya ada seorang gadis dengan selendang berwarna ungu. Alikha menduga usia gadis itu sekitar dua puluh satu seperti dirinya. Melihat ada orang lain selain dirinya di sini membuat Alikha cukup lega. Tiba-tiba gadis berselendang ungu tersebut sudah di depan pintu toko dan masuk menyapa Alikha.
“Permisi Mbak. Apakah di sini menjual telapak tangan?” tanya gadis itu serius dengan wajah dingin dan pucat.
“Maksudnya telapak tangan apa? Sarung tangan ya? Saya belum jadi pegawai di toko ini mbak, jadi belum tahu ada atau tidak. Pemilik tokonya entah ada di mana,” jawab Alikha yang tiba-tiba merasakan tubuhnya merinding dan keheranan dengan gadis yang sangat misterius di hadapannya kini.
“Bukan sarung tangan, tapi telapak tangan untuk tangan saya,” kata gadis misterius itu sambil mengangkat tangan kanannya dan ditunjukkannya tepat di depan wajah Alikha yang langsung pucat pasi memandangi tangan tanpa telapak tangan dan jari-jari. Tangan itu berlumuran darah dan menetes jatuh ke lantai. Tiba-tiba wajah gadis misterius yang pucat dan dingin tadi telah berubah menjadi wajah seram berwarna hitam dengan bola mata meloncat keluar. Rambutnya sudah sangat berantakan dan pakaian putihnya berlumur darah. Tangan kirinya dengan jari-jari berkuku tajam berusaha meraih wajah Alikha dan berusaha mencakarnya.
“Aaaaaarrrgghhh...,” jeritan Alikha memenuhi seisi toko.

Dia begitu ketakutan. Tubuhnya gemetaran sehingga tidak dapat menggerakkan kaki untuk berlari. Dengan jelas Alikha melihat wajah gadis itu yang sekarang berubah menjadi hantu menakutkan yang begitu dipenuhi kedendaman. Seolah-olah hantu itu ingin membalaskan dendamnya pada Alikha. Alikha tidak dapat melakukan perlawanan apa-apa. Matanya hanya terpejam. Membaca surat-surat pendek yang dia hafal dan memasrahkan semuanya pada Allah apa yang akan terjadi padanya.
“Keluarlah secepatnya…. Keluar!” jerit lirih hantu wanita itu terdengar oleh Alikha.

Beberapa detik berlalu namun Alikha tidak merasakan wajahnya dicakar atau dilukai hantu itu. Perlahan Alikha membuka matanya. Hantu itu tidak ada. Hilang. Alikha terduduk lemas di lantai. Merasakan kelegaan yang begitu besar. Alikha memikirkan suara hantu tadi yang menyuruhnya keluar. Apa hantu itu tidak menyukai keberadaannya di sini ya, pikir Alikha. Dari lantai atas terdengar ada langkah kaki seseorang menuruni tangga. Alikha terperanjat dan membayangkan jika itu adalah hantu tadi yang masih ingin membunuhnya. Langkah itu semakin jelas karena sudah berada di lantai dua. Keringat dingin dengan derasnya kembali membanjiri tubuh Alikha yang lemas. Rasanya ia ingin menangis. Tapi tak berapa kemudian Alikha lega karena itu benar-benar orang.
“Siapa kamu? Kenapa menjerit-jerit sehingga membangunkan saya?” tanya bapak berkumis penuh selidik pada Alikha yang masih terduduk di lantai.
“Sa…saya Alikha, Pak. Calon pegawai di toko ini. Bapak kemarin menghubungi saya kan kalau saya diterima bekerja di sini,” jelas Alikha gugup.
“Oh iya iya. Kenapa kamu menjerit dengan sangat keras?”
“Emm, tadi ada tikus yang menempel di sepatu saya, Pak.” jawab Alikha berbohong. Dia belum mau menceritakan kejadian bertemu hantu barusan. Takut itu hanya halusinasinya saja walau ia yakin itu benar-benar terjadi.
“Oh tikus ya,” Pak Amir dengan wajah yang terlihat sangar itu menanggapi pernyataan Alikha dengan nada seperti tahu sesuatu.
Setelah kurang lebih satu jam Pak Amir memberi penjelasan pada Alikha, dia lansung kembali ke lantai tiga untuk istirahat. Pak Amir menyuruh Alikha hari ini menginap saja. Mulai besok baru diperbolehkan untuk pulang pergi. Pak Amir berpesan agar Alikha bisa menempati kamar di lantai dua dan dilarang naik ke lantai tiga. Sebenarnya Alikha keberatan untuk menginap, karena dia sangat tak nyaman dengan kondisi di toko ini. Tapi mau bagaimana lagi, Alikha tidak mau kehilangan kesempatan untuk bekerja.

Pukul setengah enam sore sudah membuat langit cukup gelap. Alikha sedang duduk di dekat jendela kaca sambil memandangi langit di luar sana. Kamar ini cukup besar dan nyaman untuk Alikha. Tempat tidurnya empuk dan ada kamar mandi dengan keramik berwarna hijau, warna kesukaannya. Alikha belum memutuskan untuk tidur karena dirasanya tanggung, karena setengah jam lagi azan maghrib akan berkumandang. Sehabis shalat maghrib nanti dia baru akan memejamkan mata dan tidur di atas kasur empuk dengan seprai yang juga berwarna hijau.
Sehabis menunaikan kewajibannya shalat maghrib, Alikha ingin membaca Al Quran. Tapi ternyata Al Quran Alikha tidak ada di dalam tasnya. Mungkin tertinggal di rumah karena memang dia tadi pergi dengan terburu-buru. Alikha hanya berzikir dan berdoa meminta perlindungan pada Allah agar tidak terjadi apa-apa dengan dirinya di sini.

Tepat pukul dua belas malam, Alikha terbangun. Dia mendengar suara berisik di lantai tiga. Suara yang seperti tertahan. ”Toloooong…!” Samar-samar Alikha dapat mendengar suara jeritan menahan kesakitan itu. Dengan keheranan Alikha bangun dari tidurnya. Rasanya ia ingin ke lantai tiga untuk mengetahui ada apa sebenarnya. Belum habis kebingungan Alikha, ada suara hentakan keras seperti suara kayu yang mengenai sesuatu. Jeritan meminta tolong semakin jelas. Alikha tidak bisa hanya duduk dan mendengarkan. Dia ingin tahu apa yang terjadi di atas. Tak peduli larangan dari Pak Amir yang tidak memperbolehkan dirinya menuju ke lantai tiga.
“Pasti tidak ada yang beres dengan sesuatu di lantai tiga,” gumam Alikha.

Dengan langkah pelan Alikha menaiki tangga. Tubuhnya sedikit gemetar karena takut. Tapi niatnya untuk menolong orang yang berulang kali menjerit tadi membuat Alikha berani. Ternyata di lantai tiga hanya ada satu pintu yang tertutup rapat. Pasti itu pintu kamar Pak Amir. Alikha mendekatkan telinganya pada pintu. Benar, suara meminta tolong itu berasal dari dalam kamar tersebut. Reflek, tangan Alikha mengetuk pintu dengan keras.
“Pak Amir… Tolong bukakan pintu, ada apa di dalam? Saya mendengar suara orang meminta tolong,” seru Alikha keras. Tiba-tiba suara itu berhenti. Sekarang hanyalah sunyi yang menguasai suasana.
“Dasar tidak sopan! Saya sudah melarang kamu naik ke sini. Masih saja dilakukan,” marah Pak Amir pada Alikha. Pak Amir berdiri di dekat pintu kamar yang hanya dibukakannya sedikit.
“Maaf, Pak. Saya hanya ingin tahu apakah suara jeritan meminta pertolongan tadi benar-benar ada,” ujar Alikha memandangi Pak Amir dari atas sampai bawah. Dia tercekat karena tangan Pak Amir berlumuran darah. Sadar kalau tangannya dilihat Alikha, cepat-cepat ditariknya ke belakang tubuhnya.
“Pak, saya ingin melihat isi kamar Bapak,” kata Alikha yang kemudian mendorong pintu kamar dengan keras sekali sehingga terbuka seluruhnya.
Pemandangan di dalam kamar Pak Amir membuat jantung Alikha seakan meloncat keluar. Seorang wanita muda telah mati terkapar di atas kasur yang berseprai putih. Namun warna putihnya sudah berubah menjadi merah karena darah yang mengalir dari tangan kanan wanita itu yang tidak ada lagi telapak tangan dengan jarinya. Tepat di atas bantal, telapak tangan yang terpisah itu sudah di bungkus plastik bening.yang kotor oleh darah yang masih keluar sedikit demi sedikit.
Seketika Pak Amir menarik tangan kanan Alikha dengan sangat kuat. Diambilnya pisau besar dan tajam yang masih berlumuran darah segar dari atas meja kemudian mengarahkannya ke tangan Alikha, berusaha memotong tangan Alikha dengan kesetanan.
“Biadab kau, rasakan apa yang telah terjadi pada wanita itu juga wanita-wanita lainnya!” jerit Pak Amir yang sekarang telah berubah menjadi pembunuh yang begitu keji.

Alikha menendang tepat di bawah perut Pak Amir dan ia bisa terlepas dari cengkraman tangan manusia tak berhati tersebut. Cepat-cepat Alikha berlari menuruni tangga sampai ke lantai paling bawah. Pintu keluar dikunci. Alikha ketakutan, ia ingin segera keluar dari toko ini. Tapi semua pintu terkunci. Jendela kaca sudah dipecahkanya namun terali besi menghalanginya untuk bisa keluar. Dia menjerit-jerit meminta pertolongan, berharap ada orang lewat dan mendengar jeritannya. Tapi keadaan di luar sangat gelap dan sunyi. Alikha menangis membayangkan sebentar lagi Pak Amir akan memotong tangannya yang pasti akan mengenai urat nadinya dan pada akhirnya nasibnya akan sama seperti wanita yang tadi dilihatnya. Mati dengan tak layak.

Terdengar langkah Pak Amir menuruni tangga sambil memanggil-manggil namanya, ”Alikha… Kamu tak akan bisa kabur dari sini. Tak ada yang bisa lolos dari saya. Telapak tanganmu yang halus dan cantik itu akan menjadi telapak tangan yang ke sepuluh untuk saya santap. Kemarikan tanganmu cantik, saya berjanji akan memotongnya dengan perlahan jika kamu tidak berontak.”
“Dasar orang gila, mana ada orang yang rela memberikan tangannya pada iblis seperti kamu!” teriak Alikha marah.
Kini Pak Amir berada di hadapannya dan siap-siap mengayunkan pisau tajam ke arah tangan Alikha. Alikha berhasil mengelak, hanya lengannya sedikit tergores dan mengeluarkan darah segar. Alikha berlari menghindar ke arah belakang sambil menahan darah yang keluar dari lengannya dengan sapu tangan. Dia terus berdoa dan berdoa. Hanya Allah yang dapat menolongnya. Ia yakin itu. Jika memang harus mati, itu berarti sudah menjadi takdirnya.

Terdengar jeritan keras. Alikha menoleh ke belakang dan perlahan menuju ke depan. Pandangan menakutkan menghiasi penglihatannya. Sungguh tak dapat dipercaya namun ini nyata dilihat Alikha. Hantu wanita yang menakutinya siang tadi kini mencakar-cakar tubuh Pak Amir. Beberapa saat kemudian mulai bermunculan hantu-hantu wanita lainnya yang kesemuanya berpakaian putih penuh darah dan tangan kanan tanpa telapak dan jari. Salah satu dari mereka memotong dengan sadis kedua tangan Pak Amir. Pak Amir menghembuskan nafasnya yang terakhir seiring melemahnya jeritan kesakitannya.
Hantu-hantu itu menghilang dan pintu tiba-tiba terbuka. Alikha keluar dari toko itu sambil menjerit dan berteriak. Entah sampai ke mana ia akan lari, Alikha tak tahu. Di tengah jalan Alikha pingsan tak sadarkan diri.
***

Perlahan mata Alikha terbuka. Dia berada di ruangan serba putih dan berbau obat-obatan. Seorang suster tersenyum padanya. Alikha membalas senyum itu dan meringis ketika dirasakannya sakit di lengan tangan kanannya yang sekarang telah diperban.
“Tenang dulu ya Alikha. Istirahat saja karena kamu baru sadar dari pingsan semalaman.” kata suster dengan lembut pada Alikha.
Papa dan mama Alikha yang juga berada di sana langsung memeluk anak mereka dengan tangis haru. Mereka sangat bersyukur karena Alikha berhasil selamat dari pembunuhan sadis oleh Pak Amir yang dulunya adalah dokter di rumah sakit ini. Ketika Pak Amir bertemu dengan seseorang yang mengajarkannya ilmu hitam Pak Amir berhenti menjadi dokter dan dia menghilang tanpa berita. Pak Amir membuka toko obat dan jamu yang tidak pernah mau melayani pembeli. Membangun toko itu hanyalah salah satu cara Pak Amir untuk mendapatkan tumbal tangan sepuluh orang wanita yang akan diambil sebatas pergelangan tangan saja guna membuatnya awet muda dan kaya tanpa usaha. Dia sengaja memasang iklan di koran tentang lowongan pekerjaan khusus wanita muda agar dengan mudah ia dapat menjebak para wanita itu.

Ajaran sesat yang di dapat Pak Amir dari seseorang yang sekarang entah ada di mana itu membuatnya kehilangan akal sehat dan berakhir tragis terhadap dirinya sendiri karena roh-roh sembilan wanita yang berhasil dibunuhnya itu ternyata membalas dendam. Saat Alikha pingsan di tengah jalan, ia ditemukan serombongan polisi yang baru pulang dari dinas. Polisi-polisi curiga karena lengan Alikha terluka cukup dalam dan masih mengeluarkan darah. Para polisi itu pun mengikuti jejak darah yang tercecer di jalanan dan sampailah di “Toko Obat dan Jamu Laveindisc”.

Alikha mendengarkan penjelasan kedua orang tuanya yang masih memeluk erat dirinya. “Pagi ini toko itu sudah diamankan polisi, Sayang. Mayat wanita-wanita muda yang dibunuh itu akan segera di makamkan, begitu juga dengan mayat Pak Amir,” kata ibu berbisik di telinga Alikha. Alikha menghela nafas lega.
“Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah Ya Tuhanku,” ucapan syukur tak henti-hentinya keluar dari mulut Alikha. Kini dia semakin mengerti dan meyakini keagungan Tuhan Sang Maha Pencipta. Segala sesuatu yang mustahil sekali pun dapat terjadi jika Tuhan telah menghendaki.

Kamis, 03 Januari 2013

Last

Udah ah, ini post yang terakhir. Dirumah gue sunyi banget rasanya udah kayak dikasih sesuatu (sesuatu?kayak Syahrini aja,hehee) Yaa pokoknya gitulah, bagi gue bodo amat :p Nohkan, bingung mau nge-post apa lagi. Mungkin otak saya sudah nge-blank ._.Eeh sori sori pas di kata "nge-lank"nya tulisan ue jadi gede semua. Yaa itung-itung nyari sensasi,hahaa...Oksip udah deh bray, nanti besok nge-post lagi kalo lagi ada mood ._.v Byee!!!

Ngasal Yang Aneh (?)

Sekarang aja udah subuh,tapi belum ada rasa ngantuk juga di diri gue-_-Mau ga mau,gue cuma bisa nyalain internet terus cari twitter. Laper juga menghantui gue *menghantuiudhkyakdidtenginaja* Sialnya lagi gue sendiri doang neh,parah! Semuanya udah tidur kecuali...*pasti tau kan?* Sumpahh,laper banget,tapi gue tahan aja laparnya abis gue takut kebawah sendirian,hehehee.... :p Btw,blog gue sepi bsnget nih ga ada yang komenlah atau apalah,gue jadi kehabisan akalkan jadinya???Aah,udah deh gue males._.Bye-byee...

For You~

Aku tak tahu harus bagaimana lagi
Kini ia telah tiada dan tidak ada di dunia ini lagi
Padahal aku sangat menyayanginya
Aku hanya bisa menangis
Meratapi dirinya yang sudah pergi

Mungkin ini sudah takdir
Jika aku berpisah dengannya
Semoga engkau selalu tersenyum
Walaupun kau telah pergi jauh

For: My Opung :'')

       Selamat jalan......